Si Pencopet Waktu


Si Pencopet Waktu
       Veni Oktaviani

Malam berpacu badai, petir menggelegar memekakkan telinga, orang-orang berlalu begitu cepat- secepat kota ini, New York City. Kota yang sama membawaku bertemu dengannya Si copet berkupluk cokelat di malam yang berpacu badai yang sama seperti malam ini, tiga hari yang lalu - dia tak mencuri dompetku, yang dia curi adalah waktuku.

Aku ingat betul ketika itu aku turun subway dan menaiki tangga menuju atas, lalu tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Bahuku terbentur bahunya , aku tak melihat jelas wajahnya karena terhalang kupluk hoodie cokelatnya, lalu dia berkata.

“maaf, eh Sorry madam.”

Aku kaget ternyata dia orang Indonesia, Aku bertanya padanya apa kau orang Indonesia? Dia jawab iya.

Sambil melengos begitu saja.

Berbelok ke tikungan kanan samping bawah tangga.

meninggalkanku yang masih terheran-heran dengannya dan - menatap siluet punggung cokelat hoodienya yang telah hilang di belokan.

Kau tahu apa yang membuatku kaget dan terperengah Yap , betul dia mencuri jamku tepat saat aku berada di atas aku baru sadar, bahwa dia adalah pencuri.

Sial,umpatku waktu itu dan kaki terus menghujam tanah, dan hatiku mengumpat terus menerus di sepanjang perjalanan menuju kamar hotel bintang empat yang ku sewa selama beberapa hari kedepan untuk liburanku.

Aku tahu itu bukan jam mahal dengan brand terkenal seperti LOREX, tetapi TETAP SAJA ITU JAMKU!!!, siapa sih yang tidak kesal jamnya dicuri? . Asal kalian tahu saja aku membelinya tepat sehari sebelum keberangkatanku, sungguh sial.

Dan inilah sekarang, tiga hari setelah kejadian itu dan juga menjadi hari terakhirku di sini.liburanku berlalu begitu saja, hari pertama berada di sini aku disuguhkan pencopetan jam tangan stasiun bawah , kedua Aku hampir terhipnotis di sentral park, dan ketiga kini aku tengah berada di TIMES SQUARE di cuaca buruk, BAGUS umpatku dalam hati, yah sebagus apapun siaran cuaca ,mereka tidak akan bisa menentang SANG PENGUASA.

Jadi kuputuskan untuk kembali ke kamar hotel, tetapi ketika tengah menuruni tangga, aku melihat sekelebat pria memakai kupluk cokelat, aku tak tak peduli saat ini hujan deras ditambah aku tak memakai payung, tubuhku refleks mengejarnya di bawah hujan kota, jujur aku tak peduli jika itu bukan orang yang sama, tetapi setidaknya aku telah mencoba bukan?,

Ketika aku sudah beberapa langkah lagi dengannya, aku sadar mengapa jika itu adalah bukan dia yang mencuri jamku lalu mengapa dia memakai hoodie kupluk yang sama? Apa dia suka warna cokelat? AH TERSERAH LAH.

Kini aku hampir menggapai pundak kiri, aku hampir saja menepuk bahunya, tetapi seketika kilat putih menyilaukan mata muncul.

“DUARR”

Suara petir menggelegar

Setelah itu aku tak melihatnya

“Kau mencariku?’

“AAAAAAAAAAAHHH”

Aku reflex langsung menampar seseorang yang suara nya tepat di belakangku

plak

“Aish , Astaga mengapa kau menamparku?”

Aku melihat malaikat berambut merah dengan mata berwarna biru yang tengah mengusap pipi kirinya yang merah karena ku tampar, dengan hoodie cokelat nya yang basah karena basahan hujan yang mengguyur kami.

Aku terpaku pada matanya yang benar-benar biru,-lebih biru dari mata orang - orang di tempat ini selama tiga hari ini.

Baru sekarang ku percaya mengapa para penggila artis selebgram bisa jatuh hati pada orang-orang seperti mereka, walau hanya dari layar smarthphone mereka.

Hatiku terguncang, dan kupingku tuli seketika diterpa derakan hujan yang jatuh.

Dan aku tidak peduli dengan rambut dan pakaianku yang basah.

Lamunanku tersadar ketika dia berkata.

“Kau mau jam mu kembali?”

Aku mendengar bahasa Indonesia keluar dari mulutnya, aku bertanya apa aku perlu ke THT apa saat hujan telingaku berdelusi, tetapi mana ada telinga berdelusi?

Saat aku bergelut dengan pikiranku sendiri, tiba- tiba dia berkata lagi, dengan suara nada lebih tinggi,

“ Aku, ROBERT!! JIKA KAU INGIN JAMMU KEMBALI BERIKAN AKU TIGA HARI WAKTUMU DAN PASTI AKU AKAN MENGEMBALIKANNYA TEPAT di mana AKU MENCURINYA DARIMU”

Dan bodohnya aku mengangguk, Tiba-tiba palaku sakit, seperti migraine akhir bulan, dan sebelum aku kehilangan kesadaran sepenuhnya Robert menanyakan namaku.

“LUCI, NAMAKU Luciii”

Lalu kesadaranku buyar lalu menghitam.

Tak lama kemudian aku mengerjapkan mataku ketika seseorang menepuk pundak kanan lalu terdengar suara "maaf, pendaratan sudah selesai.... Apa kau baik-baik saja?”

Seketika aku langsung membulatkan mataku seketika itu juga, aku celingak-celinguk, aku melihat penumpang bergegas turun.

Ada apa ini? Dalam hatiku aku bertanya mengapa pramugari dari garuda indonesia ini di sini? Atau lebih tepatnya mengapa aku di sini.

di mana malaikat yang kulihat barusan? di mana bangunan – bangunan perbelanjaan? Dan di mana jamku ?

Aku langsung meraba lengan kiriku dan aku tak menemukannya di sana,
Sial,

Tetapi sisi bagusnya aku bisa memulai lagi liburanku di sini dengan menyenangkan!, tanpa sadar aku tersenyum menghadap jendela yang ada di samping kiriku,

New York aku datang!!! Pekik ku dalam hati

dan terima kasih the thieft of time.

***

Kau tahu apa yang lucu? ketika aku memutuskan mendatangi tempat di mana aku bertemu pertamakali dengannya, di sana aku melihat jam tangan bertali kan kulit imitasi cokelat,  tergelatak di sudut pojok tangga.Seolah-olah benda itu tak terlihat oleh orang lain dan seperti hanya pemiliknyalah yang hanya bisa menemukannya dan itu aku, LUCI.









Komentar

Postingan Populer