Di ujung belakang gerbong kereta Wanita-Lelaki asing

 Short story                         

 "Di ujung belakang gerbong kereta Wanita-Lelaki asing"

***
Chapter 1 : Dua makhluk yang Bertemu di Kereta


Aku baru saja memasuki kereta pagi ini dengan keberangkatan tercepat, saya bilang 'kereta mana yang akan melaju sekarang' ini adalah rute yang panjang saya menghabiskan 200 ribu lebih untuk keberangkatan.Saya hanya ingin memutar-mutar di dalam kereta sambil melihat pemandangan di depan saya,  menyumbat telinga saya dengan menggunankan earphone kabel berwarna hitam. Orang-orang ditempat kerjaku mengatakan agar menyuruhku membeli airponds karena mereka suka, mereka menyatakan bahwa 'kabel sekarang itu tidak praktis', tetapi menurut saya, saya lebih suka earphone yang memakai kabel, mereka tak berhenti sampai disitu, salah satu dari karyawati di sana di devisi line ku mengirimkan rekomendasi situs link marketplace untuk membeli atau melihat-lihat airponds yang dia gunakan sekaligus dia rekomendasi untuk saya.
 
Saya tahu bahwa niatnya baik, saya ucapkan terima kasih melalui chat perpesanan singkat itu.
 
Tapi bukan karena hal itu saya kini berada di sini, sudah pukul 2 siang sudah lima jam saya duduk menggunakan Earphone kabel ini gerbong line kosong dan hanya saya,  Baterai ponsel saya tersisa 50 persen, untungnya saya membawa power bank, karena kereta akan berakhir pukul 5 sore di stasiun yang saya tuju.
 
Ibuku memberi tahu saya bahwa saya harus segera menikah, umurku baru 25 tahun tak ada rencana menikah di awal bahkan pertengahan dua lima tahun.Ibu saya terus mendesak saya agar menikah hingga puncaknya adalah semalam. Adik lelaki saya satu-satunya dengan berani mengatakan bahwa dia menyukai sesama jenis.Ibu diam mematung hingga lututnya yang bahkan sudah berdiri kokoh untuk kami agar bisa mengenyam pendidikan yang layak tak kuat lagi, merosot terkulai badan ibu saya jatuh punggungnya bersandar kedinding, Apa yang akan dia katakan saya pun tak tahu.
 
'Palkkk'

Saya menampar adik saya, menggantikan ayah yang sudah tiada yang kini melihat kami entah dari bawah atau atas sana, uraian ungkapan kasar dan makian saya lontarkan, betapa bodohnya dia, dia adik saya baru berumur 17 betapa bodoh kakak laki-laki satu-satunya yang tak pantas dijadikan contoh hingga adiknya Bisa dengan bangganya mengatakan hal tersebut tanpa rasa bersalah di hadapan ibunya.
 
Saya tonjok dia saya baku hantam saya gulingkan dia menghajar tembok saya tendang dia, pun percuma, rasanya percuma. Kami sudah berusaha. Tidak bisa dua gay dalam satu keluarga. 


*** 


Ibu maafkanlah anakmu ini yang tak pernah bisa jujur akan dirinya sendiri yang kini tanpa arah sedang duduk melihat pemandangan dari dalam kereta. Ibu saya tidak ingin merencanakan pernikahan terlalu awal, bukan karena saya tidak mampu, bukan karena saya kurang materil, atau bukan juga kurang dalam penampjlan, bukan juga kurang dalam percaya diri ibu! TIdak!! Saya tidak menyukai wanita-tubuh mereka, rambut mereka, bibir mereka, yang selalu diungkit-ukit ketika saya tengah berkumpul bersama teman kerja saya sehabis pulang, ketika kami hang-out ketika malam weekend mereka terkadang akan mengungkit hal-hal itu, saya sama sekali tak tertarik akan hal itu.
 
Menurut saya itu sama saja tak ada gejolak apapun ketika saya melihat mereka, tapi berbanding terbalik jika ketika saya melihat sesama entah dari bisikan iblis apa yang menghasut hasrat saya untuk menyimpang seperti yang sama dihasut kan ke adik lelaki saya.
 
Diujung mata saya, saya merasakan sesuatu yang hangat menempel, saya mengucek mata saya ini berair dan cukup merah ketika saya melihat pantulan mata saya di layar hp saya.Ibu, ibu tahu bahwa saya mungkin adalah orang yang tidak terlalu taat dalam beragama terkadang saat-saat dimana iman saya meningkat adalah ketika saya berada di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah umum.Saya ingat ketika Tetangga saya berkata 'contohlah seperti dia anak itu ' didalam hati saya berkata 'contoh menjadi gay atau apa?'. Ketika saya lulus saya masuk ke dalam dunia kerja mengambil kelas malam untuk kuliah, di situ saya mulai berangsur-angsur menjauh dalam ketaatan agama. 

Saya menghela nafas sejenak.


***


Seorang wanita tiba-tiba datang dari gerbong depan, dia duduk dihadapan-ku memakai earphone kabel berwarna hitam sama seperti saya.Rambutnya panjang mungkin cukup memakan uang untuk mengurus mereka saya berfikir begitu. Hidungnya tak terlalu mancung dan juga tidak pesek, dia tidak terlalu tinggi saat berdiri tadi sebelum duduk dihadapan saya, sulit menebak berapa usia nya, kulit wajah, leher dan punggung tagannya Cerah putih kemerahan saya mengaguminya seperti layaknya saya melihat lukisan di Exibition hanya seperti itu. Pemandangan dibelakang punggungnya ingin sekali rasanya saya merekamnya menjadikaannya video di hp saya itu pemandangan yang bagus seperti lukisan, seorang wanita berambut panjang kehitaman menoleh kesamping dengan pemandangan latar belakang kaca kereta rasanya tanganku gatal sekali ingin sekali saya untuk memvideokannya.

 
Hingga saya sedikit lupa akan hal yang terjadi kepada diri saya dan apa yang saya pikirkan sebelumnya.

 
Saya menghela nafas sebelum saya memejamkan mata terasa ngantuk dan hangat sudah pukul 3 sore sebelum ketika saya mengintip jam tangan saya sebelum memejamkan mata, dan mungkin bagian belakang saya sudah agak kebas karena daritadi hanya duduk.

 
"Hai, kau permisi, apa anda punya Power bank?"

 
Ini adalah suara wanita, apakah mungkin ini suara wanita tadi yang berada di hadapan saya.Saya membuka mata mengerjapkannya, dan iya memang benar ternyata memang dia.

 
"Ya,saya ada" jawab saya.


"Sisa berapa persen? atau sedang digunakan? Baterai ponsel saya tersisa 20 persen" sambil menunjukkan layar hp nya, ya memang benar itu menunjukkan 20 persen, dengan sebagai informasi tambahan wallpapernya adalah kucing dan sosok wanita lain yang tentunya bukan dia dan tentu saya pun juga tidak tahu itu siapa. 


"Saya juga sedang menggunakannya, tapi tidak apa Baterai saya sudah 75 persen" ya baterai ponselku sudah bertambah memang.

 
Saya memberinya power bank saya, karena lubang usbnya hanya satu, jadi kami tak bisa menggunakannya secara bersamaan.

 
Terimakasih ucapnya sambil mengambil kabel usb dari dalam tas selempangnya

 
"Kenapa kau membawa kabel usb tapi tak membawa power bank itu aneh"
Seharusnya saya tidak bertanya itu.

 
Dia tersenyum lalu menghela nafas,

 
"Saya lupa, saya fikir sudah memasukkan nya kedalam bersama adapter charger tapi nyatanya tidak, tapi untungnya saya tidak meninggalkan dompet saya"

 
Ahhha

 
Betapa konyolnya wanita didepan saya ini, bisa seburu-buru apa ya dia hingga...

 
"Kenapa kau memakai sepatu terbalik?"

Kata wanita itu

 
Hah

Saya kaget

Saya langsung melihat kearah sepatu saya.


Astaga saya benar-benar malu buru-buru saya membenarkan posisi sepatu saya,
seburu-buru apa ya saya hingga bisa sala...
 
Ekh
 
"Mungkin kita berada di kapal yang sama"
 
Wanita itu tersenyum sungging. 


*** 
Chapter 2
Seorang wanita di gerbong belakang kereta dengan pria asing 


Ma...

Asal mama tahu Reni tak ingin menikah, kenapa semua orang memaksa saya untuk menikah.Sepanjang perjalanan menaiki kendaraan umum sebelum menuju kereta, itu adalah kalimat yang selalu dilontarkannya di dalam pikirannya, kecewa, sedih, semua campur aduk menjadi satu, disini ia menahan tangisnya.
 
Memejamkan mata sekilas flashback akan kajadian apa yang membuatnya sampai merasa seperti ini. Itu dimulai dengan

"Ma...
 
"Adik kamu tuh sudah mau menikah, kamu jangan dilangkahi dong!" mama nya mengatakan dengan nada yang cukup tinggi.
 
Adiknya ingin segera menikah padahal umurnya baru 23 tahun, itu  umur yang muda untuk pernikahan pikir Reni, tapi mungkin semua orang tidak berfikir begitu.
 
"Jika mau silahkan duluan aja" ucapnya.
 
"Kamu tuh mau 30 gimanasih, kamu tuh lesbi atau apa!?!"
 
Saya kaget mata saya langsung melotot tanpa sadar secara refleks, kamu mama tiri saya tahu apa kamu berani-beraninya kamu bilang begitu. Saya baru 28 tahun tahun ini , kenapa kalian terus menanyakan omong kosong ini, saya muak.
 
'Ck'

Mengklik lidah
 
Mengambil barang-barang penting saya dengan terburu-buru.

"Hai kau mau kemana, jika mau pergi setidaknya bantu adik mu dulu bayar acara pernikahannya!" saya kesal dia yang akan menikah kenapa harus saya yang repot saya sudah menjadi tulang punggung lalu mengapa harus saya lagi , dan dia beraninya meneriaki saya yang hampir keluar dari pintu masuk. 

Saya pura-pura tuli 

***

Ibu,... berani nya dia mengatai ku lesbi ibu..
 
Mungkin saya harus ketempat ibu.

Mengunjungi tempat pemakaman ibu saya.Pikirku.

 
Saat di gerbong kereta saya berjalan mencari satu-satunya gerbong yang kosong, hanya ada satu gerbong paling belakang dan hanya ada seorang, seorang lelaki yang tampaknya kaget ketika saya berjalan masuk dan duduk, kami sama-sama memakai earphone kabel, bukanlah itu sungguh kebetulan tapi didunia ini tak ada yang namanya kebetulan bukan?, saya melihat sekilas mengamati dari atas hingga bawah, dan saya msnyadari bahwa sepatunya terbalik seburu-buru apa dia.
 
Rambutnya ikal keriting coklat muda dan bukan hitam terkena pantulan cahaya siang dari kaca kereta dibelakangnya, memakai kacamata bulat yang menurutku styles dan sangat bergaya mungkin kacamata untuk mata minus atau silinder, berbeda dengan saya saya memiliki mata minis untuk keduanya tapi tidak menggunkan kacamata kecuali ketika saya membaca, tampaknya dia begitu santai tapi menyimpan beban yang tak mungkin dilihat orang lain, sudah berapa lama, sudah seberapa maksimalnya ia mencoba, seberapa kerasnya ia mencoba menjadikan tembok sebagai temannya dan cermin sebagai sahabatnya.
 
Dia mulai terlelap menutupi matanya, saya ingin menebak umurnya.

***
Epilog


Walau kita tidak mengerti, walaupun kita tidak menyukai nya, kita harus tetap menjalankan kannya..., percuma untuk mengeluh, walau mengeluh itu memang sifatnya manusia, jika kau menangis memangnya ada yang berubah? 
Awalnya saya kira kami berdua akan bisa bersama, tetapi nyatanya tidak.

Dia.bunuh diri.

Lelaki itu mengakhiri hidupnya.

Diusianya yang ke-27 tahun.

Ketika saya berada dipemakamannya, Saya mengingat pertemuan awal kami
"Di ujung belakang gerbong kereta 
Wanita-Lelaki asing"

...Dua makhluk yang Bertemu di Kereta...

Saya bertanya-tanya jika Kami 'Dua makhluk asing' itu tidak pernah bertemu di gerbong belakang itu, bahkan berbicara dan mengobrol, Apa yang akan terjadi dengan anda.

Apakah kau akan lebih dahulu bunuh diri

Atau 

Jika disaat itulah kau ingin mengakhiri hidup-mu.

Tujuan terakhir dari pemberhentian mu.




***
Note : (Maybe we're in the same boat) adalah phrase dalam bahasa ingris , yang bermaksud, memiliki persamaan dalam takdir ataupun masalah.
Sampai akhir Para audience/pembaca tidak mengetahui siapa nama karakter laki-laki.

Komentar

Postingan Populer